5 Comments

Artemis Fowl

Seri Artemis Fowl - Eoin Colfer

Awalnya sedikit ragu untuk membaca buku ini karena kisahnya berhubungan dengan dunia peri. Tapi melihat penilaiannya yang cukup bagus di goodreads, akhirnya seri Artemis Fowl ini dibaca juga. Sejauh ini, Gramedia telah menerbitkan empat seri : Artemis Fowl (2004), Artemis Fowl : Artic Incident (2006), Artemis Fowl : Eternity Code (2006), dan Artemis Fowl : The Opal Deception (2011). Mengingat tiga buku pertama sudah cukup lama terbit dan sulit ditemukan di toko buku di Bogor, ketiga buku tersebut lebih mudah didapatkan jika memesan secara online, walaupun dalam kasus saya pesanan tersebut sempat disangka bom begitu sampai di rumah -_-.

Artemis Fowl II adalah seorang anak jenius yang baru berusia dua belas tahun di buku pertama. Artemis bukan anak biasa, mengingat ia memiliki IQ tertinggi di benua Eropa dan merupakan pewaris sebuah keluarga penjahat yang terkenal di dunia. Keluarga Fowl sangat kaya, hingga ayahnya, Artemis Fowl I, hilang di Rusia. Kekayaan keluarga Fowl merosot tajam. Tanggung jawab jatuh di tangan Artemis untuk mengembalikan kekayaan keluarga tersebut, dan ia berniat melakukannya dengan memanfaatkan kaum peri yang hidup di Elemen Bawah yang berada di bawah permukaan Bumi.

Kapten Holly Short adalah peri wanita pertama yang bertugas di LEPrecon, pasukan peri yang bertugas melakukan pengintaian di permukaan Bumi. Saat ia hendak melakukan ritual untuk mengembalikan kekuatan sihirnya, ia bertemu dengan Artemis Fowl. Artemis Fowl menyandaranya dan meminta tebusan satu ton emas kepada kaum peri. Sejak saat itulah petualangan Fowl dan kaum peri dimulai. Dari Elemen Bawah di pusat bumi sampai ke dinginnya kutub utara.

Penggambaran peri di cerita ini jauh dari dugaan awal. Peri dalam cerita ini digambarkan sebagai makhluk cerdas yang memiliki teknologi yang ratusan tahun lebih maju dari manusia. Kaum peri memiliki peralatan yang canggih – senjata, kendaraan, bahkan komputer – dan bahkan pasukan khusus yang disebut sebagai LEP (Lower Element Police). Haven, kota besar di Elemen Bawah, digambarkan mirip secara modern, lengkap dengan ‘mobil’ dan pesawat ulang alik yang dapat digunakan untuk berpergian ke permukaan bumi. Walaupun digambarkan secara modern, Colfer tetap memasukkan unsur legenda dalam cerita ini seperti sihir dan aturan-aturan yang berlaku bagi peri, misalnya seorang peri tidak diperbolehkan masuk ke sebuah rumah tanpa diundang oleh pemilik rumah tersebut.

Walaupun di beberapa bagian kualitas terjemahannya jelek, unsur komedi di cerita ini masih dapat dinikmati. Awalnya mungkin sedikit sulit mencerna komedi yang berhubungan dengan goblin atau kurcaci, tapi seiring berjalannya cerita pasti akan terbiasa, terutama candaan tentang kentut kurcaci yang dahsyat :P. Walaupun unsur komedinya banyak, tapi buku ini tetap menegangkan untuk dibaca, terutama mulai buku kedua.

Di negara asalnya sendiri, Artemis Fowl telah terbit sampai buku ketujuh. Eoin Colfer sedang menyelesaikan buku kedelapan, yang dikabarkan menjadi buku penutup dari seri Artemis Fowl. Semoga Gramedia tetap rajin meneruskan seri ini :D.

About these ads

5 comments on “Artemis Fowl

  1. Salam kenal…
    Ada ato gak buku Artemis Fowl yg judul’a The Lost Colony, The Time Paradox, The Atlantis Complex, The Seven Dwarft, etc…
    Kalo ada please infonya dibeli dmna??
    coz dah inden di Gramedia jg gak ada…
    kalo ada kbri via email lia ya…
    Thank’s be4….

  2. Saya beli The Lost Colony, The Time Paradox, The Atlantis Complex di Gramedia di PIM, sekitar bulan Agustus 2011. Yang versi bahasa Inggris tentunya, soalnya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia baru sampai Opal Deception aja. The Seventh Dwarf itu cuma cerita pendek, buku terpisah dari seri utama itu. Bukunya judulnya Artemis Fowl’s Files, cuma buku pelengkap, jadi mungkin ga akan ikut diterjemahin ke bahasa Indonesia.

  3. Blogwalking malem-malem om :D

  4. wah…senang rasanya meliaht ada yang menulis tentang buku artemis fowl

    saya merasa kesepian di sini, menyukai artemis fowl, si penjahat jenius, sendirian

    saja, karena tidak ada yang tahu bukunya, mungkin karena itu cerita fantasi,ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: