Tulisan spontan

Sejak kecil aku hidup di kota yang sama. Aku lahir di sana. Besar di sana. Sekolah di sana.  Aku jarang pergi meninggalkan kota tersebut. Jika aku harus pergi, aku hanya pergi dalam kurun waktu waktu yang singkat. Aku merasa betah di kota kelahiranku.

Saat aku duduk di bangku SMP, kebiasaanku adalah berjalan kaki dari sekolah ke rumahku. Menikmati pemandangan udara kota yang sejuk dan memanjakan mata dengan hijaunya pepohonan yang banyak ditanam di kota itu. Saat hujan turun, aku tetap berjalan tanpa perlindungan payung atau jas hujan. Setiap tetes air yang membasahi  tubuhku membuatku merasa lebih hidup. Seperti kata pepatah “God is in the rain”, hujan adalah salah saat aku bisa merasakan rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Ada orang yang berkata bahwa cinta lahir seiring berjalannya waktu. Namun, semakin lama aku hidup di kota itu semakin hilang rasa cintaku pada kota itu. Kota itu berkembang seiring berjalannya waktu. Banyak gedung baru yang berdiri. Banyak jalan baru yang dibangun. Pusat perbelanjaan semakan menjamur. Semakin banyak orang yang tinggal di kota itu. Orang-orang bilang bahwa kota itu mengalami kemajuan ke arah yang lebih baik.

Namun kemajuan itu memerlukan pengorbanan.

Untuk setiap kemajuan yang dicapai akan ada hal yang dikorbankan. Perlahan-lahan kota kelahiranku berubah. Jumlah pepohonan semakin berkurang. Udara yang dulu bersih dan segar sekarang menjadi penuh debu. Embun yang selalu menyambut pagi hariku dulu sekarang tidak pernah muncul kembali. Jalanan yang dulu merupakan tempat yang aman dan bebas dari kemacetan, sekarang menjadi tempat buruk rupa dimana orang-orang meluapkan rasa kesal mereka karena kemacetan. Kota yang dulu indah dan dipenuhi penduduk yang ramah kini berubah menjadi tandus dan penuh pandangan curiga dan merendahkan.

Aku sadar perubahan itu pasti terjadi. Siapa yang tidak siap menghadapi perubahan hanya akan menjadi buih yang akan ditelan oleh ombak. Namun, aku menolak perubahan yang terjadi di kota kelahiranku.

Yah, pada akhirnya penolakan tersebut berkembang menjadi kemarahan. Karena kemarahan itulah aku memutuskan untuk pergi dari kota kelahiranku, tidak, aku memutuskan untuk pergi dari negeri kelahiranku.

Entah kenapa sedang ada keinginan untuk menulis sesuatu. Idenya spontan saja dan memang masih jauh dari selesai (hei, nama tokohnya saja belum ada😛 ). Semoga bisa selesai dan tidak hanya menjadi sampah di kepala saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s