The best feeling in photography

The best feeling in photography is when another person happily enjoying the photos that you took. I experience it once when my computer science class do a fieldtrip. Back then I don’t care about photography technique. The only things in my mind is to capture every possible moment and I found myself enjoying the process. When I upload the photos in facebook, every comments and like given is make even happier. That is the reason I make photography as my hobby.

Recently, I try to improve my skill by learning some photography techniques. And guess what? I find those photos are far greater than my attempts to apply photography techniques. Maybe I am too much focused in do the technique correctly so I forgot the feeling.

Let’s start from zero again :D.

FYI : The picture is taken from Tamayura – Hitotose – anime. The story is about a young girl who love photography.

Beralih ke ebook

Setelah bertahun-tahun setia membaca buku tercetak, sepertinya untuk kedepannya saya akan mulai beralih ke ebook. Buku-buku yang dibaca dalam format ebook adalah buku-buku yang 99.99% terdiri dari teks. Untuk buku-buku referensi yang memuat banyak gambar dan simbol matematika, sepertinya akan lebih mudah untuk membaca versi tercetaknya.  Sangat merepotkan untuk membaca simbol di perangkat ebook reader, apalagi saya membacanya di perangkat yang hanya memiliki layar 4.2 inci.

Alasannya sederhana saja. Sudah terlalu banyak jumlah buku yang ada di rumah. Memang tidak ada salahnya, tapi tidak ada ruangan untuk menampung keseluruhan buku tersebut. Setiap kali mau hunting buku, pasti ada yang berkomentar “Mau ditaruh di mana?”.

Selain itu, biaya untuk membeli dan merawat buku tersebut juga cukup lumayan. Mengingat faktor ruangan dan kepraktisan, sepertinya ebook adalah pilihan yang lebih praktis. Selain itu, uangnya kan lumayan untuk ditabung. Siapa tahu beberapa tahun lagi bisa beli kamera yang kualitasnya lumayan :D.

Masalahnya adalah aspek legalitas. Tidak semua ebook itu gratis, kecuali buku-buku klasik. Bagaimana kalau saya ingin membaca ebook dari buku yang terbilang baru? Di luar memang ada penyedia ebook seperti Amazon, yang harganya jauh lebih murah daripada versi cetak. Kira-kira ada tidak ya jasa seperti itu di Indonesia?

Tembok batu yang tinggi

Brick Wall - ortizmj12 @ Flickr

Sejujurnya sekarang sedang butuh suntikan semangat untuk skripsi. Satu minggu ini hampir setiap hari diisi dengan kegiatan ngulik di depan laptop. Seperti setiap perjuangan lainnya, pasti ada tantangan yang menghadang. Mulai dari adik yang stres dalam rangka persiapan SNMPTN (semoga keterima di universitas yang baik ya :D), modem yang rusak tersambar petir, laptop yang rusak, pembangunan di depan rumah, dan puluhan gangguan minor lainnya yang tidak layak disebutkan di sini. Kalau dirangkum : kepala pusing karena banyak pikiran dan kondisi fisik yang sedang tidak optimal.

Jelas banyak pencerahan! Kemajuan penelitian di satu minggu ini lebih besar daripada dua bulan kemarin, yang diisi dengan kegiatan proyekan demi menambah pengalaman dan membeli ponsel sebagai pengganti ponsel lama, yang keadaannya mengenaskan, sekaligus sebagai alat percobaan penelitian. Namun, entah kenapa semangat yang menggebu-gebu itu sedikit turun karena gangguan-gangguan kecil tadi. Ironisnya, tembok yang paling tinggi dari semua gangguan tadi adalah diri sendiri yang masih setengah-setengah mencintai bidang pemrograman.

Berhubung barusan saya menyebut-nyebut tentang tembok, ada satu kutipan tentang tembok yang saya sukai :

“The brick walls are there for a reason. The brick walls are not there to keep us out. The brick walls are there to give us a chance to show how badly we want something. Because the brick walls are there to stop the people who don’t want it badly enough. They’re there to stop the other people.” — Randy Pausch

Berikut adalah terjemahan bebas dari kutipan tersebut :

“Tembok itu ada untuk suatu alasan. Tembok tersebut ada di sana bukan untuk mencegah kita masuk. Tembok itu ada di sana untuk memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan seberapa besar keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu. . Karena tembok tersebut ada untuk mencegah orang-orang yang tidak memiliki kemauan yang cukup. Mereka ada untuk menghentikan orang lain.” – Randy Pausch.

Rasanya saya perlu sekali lagi menamatkan buku The Last Lecture karya Randy Pausch. Banyak sekali pengalaman kehidupan beliau yang menginspirasi. Bahkan saat menuliskan kutipan di atas, rasanya ada semangat baru yang muncul :D. Rasanya lebih mantap jika tulisan ini ditambah dengan beberapa kutipan inspiratif lainnya.

“It’s not about how to achieve your dreams, it’s about how to lead your life, … If you lead your life the right way, the karma will take care of itself, the dreams will come to you.” — Randy Pausch

“You may not want to hear it, but your critics are often the ones telling you they still love you and care about you, and want to make you better. ” — Randy Pausch

“Cultivate an attitude of happiness. Cultivate a spirit of optimism. Walk with faith, rejoicing in the beauties of nature, in the goodness of those you love, in the testimony which you carry in your heart concerning things divine.”— Gordon B. Hinckley

Setelah dilihat-lihat sedikit, sepertinya foto di bagian atas terkesan sedikit negatif. Yah, iseng-iseng saja menambahkan sedikit kalimat di foto tersebut : Ternyata ada syarat non-derivative works di lisensinya, jadi foto yang sudah ditambah dihapus saja :D.

Memang, salah satu cara mengembalikan kepenatan kita pada suatu kegiatan adalah dengan melaksanakan kegiatan lain, dalam kasus ini, ngeblog :D. Semoga akhir Juni skripsi sudah selesai dengan mantap, amin.

Kutipan Penutup

Sumber gambar :

Brick Wall oleh ortizmj12 @ Flickr

Rintangan menuju kampus : macet

Kemacetan di Jalan Soleh Iskandar

Selama tiga setengah tahun kuliah di IPB Dramaga, setiap semester selalu saja ada masa-masa perbaikan jalan di Jalan KH Soleh Iskandar, yang dikenal juga sebagai Jalan Baru. Jika terjadi perbaikan jalan, waktu tempuh angkot 32 dari Kedung Badak sampai ke kampus meningkat dari empat puluh menit menjadi satu setengah jam. Di waktu sibuk bahkan waktu tempuh bisa meningkat sampai dua jam.

Dua jam di perjalanan, dua kali sehari, lima kali seminggu selama dua bulan! Siapa yang tidak stress? Apalagi di tingkat tiga dimana kuliah dan praktikum sedang padat-padatnya. Setiap hari pulang sore dengan perut kosong dan dahaga yang membara. Jadi, wajarlah jika semester lima dan enam kemarin adalah semester dimana saya paling sering bolos perkuliahan :mrgreen:.

Saat yang paling menyenangkan jelas saat perbaikan selesai. Perjalanan sangat lancar dan nyaman, aman terkendali. Kuliah pun jadi rajin :D. Tapi walaupun perbaikan sudah selesai ternyata masih banyak sisa-sisa perbaikan yang masih belum dirapihkan. Batu-batu pembatas trotoar masih tergelatak tak beraturan.

Sayangnya, ada kabar buruk yang harus kita terima. Mulai minggu ini, Jalan Baru kembali mengalami perbaikan berupa pengecoran jalan yang ada di depan Bukit Cimanggu. Yah, namanya juga Jalan Baru, harus terus diperbaiki agar namanya tetap Jalan Baru :P.

Orinoco Flow

Salah satu kegiatan yang asyik sebagai selingan di sela kesibukan adalah mendengarkan lagu. Inilah lagu yang paling sering dimainkan di mp4 player beberapa hari ini : Orinoco Flow oleh Enya.

Mantap. Hampir semua lagunya Enya enak didengarkan :mrgreen:.

Let me sail, let me sail, let the Orinoco flow.
Let me reach, let me beach on the shores of Tripoli.
Let me sail, let me sail, let me crash upon your shore.
Let me reach, let me beach far beyond the Yellow Sea.

Hidup tanpa listrik

Lamp by scui3asteveo @Flickr Creative Common

Di zaman ini, kecuali Anda hidup di tempat terpencil, sangat sulit memisahkan listrik dari kehidupan. Listrik selalu ada di sekitar kita. Dengannya kita dapat menghidupkan ratusan mesin yang mewarnai kehidupan kita. Mesin cuci, televisi, telepon genggam, dan komputer adalah sedikit dari peralatan elektronik yang selalu ada di dekat kita. Tanpa listrik, semua peralatan itu tidak berjalan. Tanpa listrik, dunia terasa mati. Benarkah?

Harus kita akui bahwa kita sangat tergantung pada listrik, bahkan lebih daripada yang kita sadari. Kita memerlukan listrik untuk memperoleh informasi, berkomunikasi lewat telepon dan internet, atau sekedar untuk memperoleh cahaya yang nyaman di malam yang damai. Namun, listrik memiliki peran yang lebih penting daripada itu.

Misalnya saja, listrik digunakan untuk mengalirkan air bersih lewat pipa-pipa yang tertanam di bawah tempat kita berdiri. Jika tidak ada listrik, keran yang ada di sekitar kita tidak lagi mengeluarkan air. Lalu dimana kita bisa mendapatkan air? Dahulu, manusia dapat dengan mudah menuju sungai untuk mendapatkan air, tapi sekarang sungai-sungai sudah terlalu kotor untuk dapat diminum airnya tanpa melalui proses penyulingan.

Apakah keadaan bisa lebih buruk lagi tanpa listrik? Kekurangan makanan, transportasi, dan masalah kebersihan adalah sedikit dari banyak masalah yang membuat melewati malam hari hanya dengan lilin menjadi kekhawatiran terkecil kita.

Who turned out the light by aussiegall @Flickr Creative Common

Manusia memang tidak akan musnah tanpa listrik. Umat manusia saat telah bertahan berpuluh abad tanpa listrik. Masalahnya adalah, kita terlalu merasa nyaman dengan keberadaan listrik dan kenyamanan tersebut membuat kita menafikan kemungkinan bahwa pada suatu hari listrik tidak akan menyala kembali. Membayangkan hidup tanpa listrik saat ini sesulit saat leluhur kita membayangkan hidup dengan listrik.

Tapi mungkin hidup tanpa listrik bukanlah sebuah hal yang buruk. Kehidupan dimana kita lebih banyak berinteraksi dengan manusia, bukan mesin seperti sekarang ini. Bisa jadi kita harus berterima kasih pada PLN yang tiada bosannya melatih kita hidup tanpa listrik :mrgreen:.

Bisakah kita hidup tanpa listrik? Pasti bisa, tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah : Siapkah kita hidup tanpa listrik?

Tulisan sejenis :
How do you live without electricity?
Living without electricity